Jumat, 09 Oktober 2009

1day workshop: memahami dan membuat cerita berdasarkan RATING

Terlepas dari kontroversinya, sinetron tak bisa lepas dari RATING. Setuju atau tidak, rating telah lama dijadikan paramater kesuksesan acara TV oleh stasiun TV, pemasang iklan, bahkan pemilik PH, atau produser. Rating yang fluktuatif seringkali membuat penulis harus dengan cepat mengubah jalan cerita yang telah dibuat, atau sebaliknya, membuat pola yang sama terus menerus.

Pertanyaannya kemudian, apakah rating membatasi penulis dalam berkreasi?
Bagaimana cara membaca dan memahami hasil rating?
Apakah ada cara-cara kreatif dalam menghadapi rating yang fluktuatif?

Temukan jawabannya di acara SERUNYA Scriptwriting Workshop dengan...

Tema : Memahami dan membuat cerita berdasarkan HASIL RATING
Tutor : Luvie Melati
Waktu : Sabtu, 17 Oktober 2009 pukul 16.00-18.00
Tempat : Ruang Kelas Serunya Scriptwriting di STC Senayan
Investasi : Rp. 10.000,- (presale), Rp 20.000 (on the spot)

Jika anda beruntung, selain menghasilkan satu sinopsis, anda juga bisa memenangkan total diskon Rp. 500.000 untuk mengikuti kursus skenario sinetron Luvie Melati. Tidak hanya itu, jika memang di anggap qualified, kemungkinan anda untuk menjadi penulis skenario sinetron profesional semakin terbuka lebar.


Daftar segera! Kuaota sangat sangat terbatas!


Informasi dan Pendaftaran
SERUNYA Scriptwriting
Selasa-Jumat (13.00-20.00), Jumat (13.00-18.00)
STC Senayan lantai 4 nomor 1002 Jakarta
serunyaserunya@yahoo.com
021-97007900/0813-10033524
www.skenario.org


*Luvie Melati adalah salah satu anggota tim penulis skenario dari sinetron yang ditayangkan setiap hari di stasiun televisi swasta. Data detil tentang Luvie Melati bisa anda dapatkan di sekretariat SERUNYA Scriptwriting.

Rabu, 30 September 2009

Pentingkah Informasi Gaya Kamera dalam Skenario?

Beberapa hari lalu, saya mendapat pertanyaan:

Saya mau nanya, penting ga sih nulis camera angle segala macem misalnya;
"PRANG! Kaca pecah, camera menyorot wajah pemain yang terkejut. Zoom In."

Ini pertanyaan menarik karena sebagai penulis skenario seringkali kita kehabisan kata-kata untuk menggambarkan imajinasi kita secara tertulis. Alhasil, kita menggunakan bahasa-bahasa teknis di dalam skenario kita. Berikut akan saya paparkan apa yang telah saya pelajari dari ilmu dan dari pengalaman.

Waktu kuliah dulu, saya diberitahu oleh dosen saya untuk tidak pernah menggunakan kata "kamera" dan istilah-istilah pergerakan kamera lainnya di dalam skenario. Menurutnya ini adalah intervensi penulis skenario terhadap kreativitas sutradara dalam berimajinasi dan menciptakan shot. Ada pula dosen yang menyarankan untuk mengganti kata "kamera' dengan kata "pandangan". Namun seiring berjalannya waktu, saya memiliki pendapat lain:

Hanya jika pergerakan atau posisi kamera tersebut demikian PENTING untuk dimasukkan ke dalam skenario dan dimengerti oleh sutradara anda bisa memasukkannya. Jika tidak terlalu penting, anda tidak perlu memasukkannya.

Misalnya, saya bermaksud membuat scene long take (satu shot panjang tanpa putus) seorang pejalan kaki di jalan raya. Karena menurut saya elemen long take ini adalah krusial, pada awal skenario saya sudah menuliskan kamera mengikuti pemain ke mana pun ia pergi (dan ditulis dalam huruf kapital). Dengan menuliskan ini, saya memiliki tanggung jawab untuk memberikan alasan kepada sutradara mengapa elemen long take tersebut krusial. Misalnya alasan saya adalah, "judul filmnya aja Long Take, kalo diambilnya nggak long take ya percuma dong Pak Sut!" Ini misalnya lho.

Mari kita bahas contoh awal:

"PRANG! Kaca pecah, camera menyorot wajah pemain yang terkejut. Zoom In."

Ada banyak cara untuk merealisasikan "wajah pemain yang terkejut", dan kamera menyorot plus zoom in termasuk salah satu cara yang sangat biasa dan bisa dianggap klise oleh sutradara yang biasa berimajinasi. Mungkin saja seorang sutradara ingin membuat dua shot, di mana yang satu adalah Medium Shot pemain, cut to Close Up wajah pemain. Atau ia ingin mengambil detil pergerakan tangan atau kaki atau rambut dari pemain. Bisa saja sutradara lebih memilih track in ketimbang zoom in. Belum lagi jika ia memutuskan untuk menggunakan handheld. Jadi ada banyak gaya dan imajinasi yang mungkin tak terpikirkan oleh anda.

Intinya, jangan batasi kreativitas sutradara untuk memilah shot dengan mematok posisi dan pergerakan kamera. Pilih sutradara yang kompeten, berikan ia ruang, dan percayakan scene-scene anda padanya. Jika anda sebagai penulis skenario juga bertindak sebagai sutradara, menurut saya anda bebas memasukkan style kamera yang anda inginkan, walaupun sebenarnya informasi type of shot, angle, lensa, dan camera movement, sudah memiliki tempat tersendiri di dalam director's shot.

Jika sudah sering bekerja sama, seorang produser juga dapat memperkirakan apa saja alat yang akan digunakan oleh sutradara dalam sebuah scene tanpa penulis skenario harus menulis informasi kamera.

Semoga bermanfaat.

Minggu, 27 September 2009

Menculik Miyabi: Tema Tanpa Tanggung Jawab

Seringkali saya menitip pesan dalam artikel-artikel yang saya buat kepada para penulis skenario Indonesia bahkan dengan bahasa non-indonesia agar lebih yakin seperti be responsible this, be responsible that, dan ternyata saya menemukan kasus kontroversi seorang penulis skenario yang telah memiliki peluang untuk menulis skenario layar lebar (sekaligus bermain di dalamnya) dan memanfaatkannya untuk mendatangkan pemain bintang porno dari Jepang.

Ya, penulis blog idecerita dengan ini menyatakan diri kontra "Menculik Miyabi", bahkan sebelum film itu dibuat. Saya tak peduli dengan Miyabi, silakan datang ke Indonesia dengan atau tanpa busana, silakan nikmati pemandangan dan pantai di sini serta keramahan orang-orang Indonesia, silakan bermain dalam seratus atau seribu film Indonesia, lagi-lagi dengan atau tanpa busana, saya tak peduli. Tapi saya akan menyerang orang yang membuat skenario "Menculik Miyabi" dan film-film lainnya yang akan menggunakan cara sama untuk mencari sensasi sekaligus keuntungan, karena saya peduli, karena saya yakin penulis skenario film itu (baik sendiri atau tim) kurang atau bahkan tidak disiplin dalam hal tanggung jawab. Inti dari blog ini bukan berbagi ilmu untuk bisa menulis, tetapi berbagi ilmu untuk bisa menulis dengan tanggung jawab.

Sebelum memulai, saya punya beberapa pertanyaan yang mungkin anda bisa jawab untuk membantu saya mencerahkan kepala saya dari pikiran buruk terhadap penulis skenario "Menculik Miyabi":
1. Apakah tema dari "Menculik Miyabi" adalah "seseorang atau lebih yang menculik bintang porno karena suatu alasan"?
2. Jika jawaban nomor satu adalah tidak, lalu apa kira-kira temanya?
3. Jika jawaban nomor satu adalah ya, mengapa tema tersebut diangkat?
4. Apa kira-kira pesan moralnya? Jika tidak ada "moral"-nya, maka apa kira-kira "pesan"-nya? Jika tidak ada "pesan", apa untungnya bagi penonton? Apa untungnya bagi masyarakat?

Jika tujuannya adalah membangun citra perfilman Indonesia di mata dunia dan hal ini terbukti benar, maka saya akan berhenti menulis blog ini dan membuat blog tentang tips menulis skenario dengan bintang film porno.

Diketahui bahwa Maxima Pictures memang hobi membuat film sensasional, seperti "Kutunggu Jandamu" dan "Tali Pocong Perawan". Tapi membuat sensasi dengan mendatangkan artis porno? Tolonglah. Tolong peka sedikit dengan kondisi perfilman di Indonesia yang sedang berkembang dan klasifikasi penonton (Bawah Umur, Bimbingan Ortu, Dewasa, dll) yang masih sangat lemah. Tolong pikirkan manfaat dan mudaratnya.

Di luar sana banyak sekali bintang film porno dan di dalam sini banyak sekali production house yang haus akan keuntungan. Penulis skenario atau pencetus ide "Menculik Miyabi" telah membuka kesempatan untuk production house lain untuk meniru jejak "datangkan bintang film porno terkenal dan pakaikan ia baju! Yang penting kita sukses!" seandainya formula ini terbukti sukses. Sudahkah anda pikirkan ini? Sudahkah anda pikirkan mereka yang di bawah umur akan mencari tahu Miyabi melalui mesin pencari di internet? Akankah mereka menemukan manfaat di sana? Akankah pria dewasa menemukan manfaat dalam film anda? Bukankah bagi pria dewasa yang sudah akrab dengan pornografi lebih baik melihat Miyabi telanjang atau mengerjakan apa yang biasa ia kerjakan?

Mungkin saya terlalu berlebihan dalam memikirkan hal ini, tapi saya yakin masih banyak tema berguna yang bisa anda angkat sekaligus mendatangkan keuntungan. Hal ini pun sudah terbukti dari film-film berkualitas yang mampu mendatangkan jutaan penonton ke dalam bioskop. Masih banyak tema menarik yang bisa digunakan untuk mencari sensasi. Saya tidak akan bosan mengatakan ini: bertanggung jawablah terhadap skenario yang anda buat, karena efeknya dapat menjadi panjang dan dalam.

Jika film ini benar-benar dibuat, saya akan menontonnya sambil berharap omongan saya di atas salah, berharap bahwa memang ada makna positif dari sensasi kontroversial ini. Obyektif tetap menjadi nama tengah saya, namun entah mengapa saya merasa yakin saya tetap akan mengatakan penulisnya tidak becus dalam hal tanggung jawab setelah saya menonton film "Menculik Miyabi".

Biarkan koruptor diurus komisi pemberantas korupsi, biarkan teroris diurus densus 88 anti-teror, biarkan negara diurus pemerintah, biarkan dosa dan pahala diurus Tuhan. Tapi biarkan blog ini "mengurus" penulis skenario tak bertanggung jawab.

Silakan berikan komentar. Saya harap penulis skenario film "Menculik Miyabi" membaca artikel ini dan mau memberanikan diri untuk berkomentar untuk mencerahkan pikiran saya.