Menculik Miyabi: Tema Tanpa Tanggung Jawab

Seringkali saya menitip pesan dalam artikel-artikel yang saya buat kepada para penulis skenario Indonesia bahkan dengan bahasa non-indonesia agar lebih yakin seperti be responsible this, be responsible that, dan ternyata saya menemukan kasus kontroversi seorang penulis skenario yang telah memiliki peluang untuk menulis skenario layar lebar (sekaligus bermain di dalamnya) dan memanfaatkannya untuk mendatangkan pemain bintang porno dari Jepang.

Ya, penulis blog idecerita dengan ini menyatakan diri kontra "Menculik Miyabi", bahkan sebelum film itu dibuat. Saya tak peduli dengan Miyabi, silakan datang ke Indonesia dengan atau tanpa busana, silakan nikmati pemandangan dan pantai di sini serta keramahan orang-orang Indonesia, silakan bermain dalam seratus atau seribu film Indonesia, lagi-lagi dengan atau tanpa busana, saya tak peduli. Tapi saya akan menyerang orang yang membuat skenario "Menculik Miyabi" dan film-film lainnya yang akan menggunakan cara sama untuk mencari sensasi sekaligus keuntungan, karena saya peduli, karena saya yakin penulis skenario film itu (baik sendiri atau tim) kurang atau bahkan tidak disiplin dalam hal tanggung jawab. Inti dari blog ini bukan berbagi ilmu untuk bisa menulis, tetapi berbagi ilmu untuk bisa menulis dengan tanggung jawab.

Sebelum memulai, saya punya beberapa pertanyaan yang mungkin anda bisa jawab untuk membantu saya mencerahkan kepala saya dari pikiran buruk terhadap penulis skenario "Menculik Miyabi":
1. Apakah tema dari "Menculik Miyabi" adalah "seseorang atau lebih yang menculik bintang porno karena suatu alasan"?
2. Jika jawaban nomor satu adalah tidak, lalu apa kira-kira temanya?
3. Jika jawaban nomor satu adalah ya, mengapa tema tersebut diangkat?
4. Apa kira-kira pesan moralnya? Jika tidak ada "moral"-nya, maka apa kira-kira "pesan"-nya? Jika tidak ada "pesan", apa untungnya bagi penonton? Apa untungnya bagi masyarakat?

Jika tujuannya adalah membangun citra perfilman Indonesia di mata dunia dan hal ini terbukti benar, maka saya akan berhenti menulis blog ini dan membuat blog tentang tips menulis skenario dengan bintang film porno.

Diketahui bahwa Maxima Pictures memang hobi membuat film sensasional, seperti "Kutunggu Jandamu" dan "Tali Pocong Perawan". Tapi membuat sensasi dengan mendatangkan artis porno? Tolonglah. Tolong peka sedikit dengan kondisi perfilman di Indonesia yang sedang berkembang dan klasifikasi penonton (Bawah Umur, Bimbingan Ortu, Dewasa, dll) yang masih sangat lemah. Tolong pikirkan manfaat dan mudaratnya.

Di luar sana banyak sekali bintang film porno dan di dalam sini banyak sekali production house yang haus akan keuntungan. Penulis skenario atau pencetus ide "Menculik Miyabi" telah membuka kesempatan untuk production house lain untuk meniru jejak "datangkan bintang film porno terkenal dan pakaikan ia baju! Yang penting kita sukses!" seandainya formula ini terbukti sukses. Sudahkah anda pikirkan ini? Sudahkah anda pikirkan mereka yang di bawah umur akan mencari tahu Miyabi melalui mesin pencari di internet? Akankah mereka menemukan manfaat di sana? Akankah pria dewasa menemukan manfaat dalam film anda? Bukankah bagi pria dewasa yang sudah akrab dengan pornografi lebih baik melihat Miyabi telanjang atau mengerjakan apa yang biasa ia kerjakan?

Mungkin saya terlalu berlebihan dalam memikirkan hal ini, tapi saya yakin masih banyak tema berguna yang bisa anda angkat sekaligus mendatangkan keuntungan. Hal ini pun sudah terbukti dari film-film berkualitas yang mampu mendatangkan jutaan penonton ke dalam bioskop. Masih banyak tema menarik yang bisa digunakan untuk mencari sensasi. Saya tidak akan bosan mengatakan ini: bertanggung jawablah terhadap skenario yang anda buat, karena efeknya dapat menjadi panjang dan dalam.

Jika film ini benar-benar dibuat, saya akan menontonnya sambil berharap omongan saya di atas salah, berharap bahwa memang ada makna positif dari sensasi kontroversial ini. Obyektif tetap menjadi nama tengah saya, namun entah mengapa saya merasa yakin saya tetap akan mengatakan penulisnya tidak becus dalam hal tanggung jawab setelah saya menonton film "Menculik Miyabi".

Biarkan koruptor diurus komisi pemberantas korupsi, biarkan teroris diurus densus 88 anti-teror, biarkan negara diurus pemerintah, biarkan dosa dan pahala diurus Tuhan. Tapi biarkan blog ini "mengurus" penulis skenario tak bertanggung jawab.

Silakan berikan komentar. Saya harap penulis skenario film "Menculik Miyabi" membaca artikel ini dan mau memberanikan diri untuk berkomentar untuk mencerahkan pikiran saya.

23 comments:

  1. Film "Menculik Miyabi" memang cuma nyari sensasi. Ga kreatif! Heran deh, yang bisa nulis cerita & skenario kaya' gitu kok bisa dapet kesempatan? Emang dunia udah mau kiamat. Yang (berusaha) bener dicuekin, sementara yang (udah jelas) salah, ada aja yang ngebelain. Ayo, kalo perlu kita kemplang aja tuh, penulis skenarionya. Eh, jangan.... Ntar masuk penjara, ga bisa bikin skenario bagus dan bertanggung jawab dan membiarkan penulis semacam penulis skenario "Menculik Miyabi" berbuat sesukanya. Grrrr (geram nih ceritanya)!

    ReplyDelete
  2. Kalem, kalem, gue lagi emosi nih. Buat yang nulis blog ini, tolong daku meredakan kekesalan hati ini pada orang-orang semacam RA itu. BTW, kalo Bravado kenal sama RA, kenapa ga disamperin aja orangnya? Soalnya saya ga kenal sih, jadi ga tau mau disamperin di mana. Tenang.... ga bakalan dikemplang kok, cuma mau diseret ke depan Ustadz Yusuf Mansyur, biar beliau yang ngasih ceramah biar tobat ^_^

    ReplyDelete
  3. Saya pun berfikir bahwa film menculik miyabi dgn bintang impor yg pornoist .. :) hanyalah sensasi tuk mengeruk keuntungan tanpa peduli moral. :( :(

    Salam. 8-)

    ReplyDelete
  4. @PNMF. Kalem, teman. Saya sudah melakukan apa yang bisa saya lakukan, sisanya tinggal menunggu. :)

    @Lamunadi. Salam :)

    ReplyDelete
  5. salam kenal,
    saya mengutuk si penulis (si RD), maaf kalo saya agak emosi bukan apa-apa soalnya di FB saya bahkan seorang anak smp (teman adik saya) sudah menunggu kedatangannya kesini, filmnya belum tayang tapi pengrusakan moral sudah mulai duluan..
    mau jadi apa negara ini..!!

    ReplyDelete
  6. This comment has been removed by a blog administrator.

    ReplyDelete
  7. kita identikan aja maxia picture itu dengan pornografi,lawong film nya aja ga da yang bermutu and ga maksud malah isinya kebanyakan yang ngeres2,mang tim nya kale kotor ...ku yakin mbok artisnya madona sekalian filmnya ga bakal menarik,om rumah produksi ganti profesi jadi sutradara blu film ja nek cuma ngumbar sexsualitas dalam film...please jangan racuni anak bangsa,bangsa kita tu dah terpuruk nek SDM nya terus di cekoki racun gitu,gmn mau bela negara????

    ReplyDelete
  8. maxia,atau maxima sih? tapi cocok kali kalo pake maxiat, la wong yang dipake untuk cari duit itu kok? bikin pilem kan cari duit toh...waah hebat juga ide maxiatnya hayooo semua ph mbikinke koyo maxiat produksion ini, ndatengke pegawai blu pilem lagi dari semua negara di dunia, plus kalo nontonnya nanti dikasi bonus film dari laga aksi bintang prono tersebut beraksi garatis lagi hayooo rame rame...ancurin negara ni lewat pertunjukan prono ( maaf komment ini aku bikin karena kelewat benci dengan mental yang bersembunyi dibalik seni,- kalo orang bule membuat pilem biru aja udah dibilang karya seni Lah..kita digiring seperti itu???lahir sampean dimana kang??? cari makan sampean dimana kang??
    jangan jangan idup disini untuk memporakporandakan moral bangsa ini wah teroris tuh )

    ReplyDelete
  9. Max maxia maxima siapa si ni merdeka berkreasi si merdeka tapi jangan munafik dunk bilang untuk karya seni film ini dibuat, mau tau karya seni sebenarnya? Van gogh tu karya seni dia ga peduli dapet untukng apa kaga yang penting membuat karya seni berkarya ga ada embel untung disitu! itu seperti ni luh penari bali, angklung ujo di bandung, bagong di jogya(awalnya sama sekali tidak berfikir profit) dll jadi jangan atas namakan seni jika ujung ujung na duit. itu munafik!

    ReplyDelete
  10. aduhhh kasian deh si penulis dan PH-nya digojlog kanan-kiri. Yaa, bagaimana lagi: mungkin mereka "keturunan kroninya.....yang selalu manfaatkan aji mumpung." Boleh jadi mereka memang agen bisnisman - tahu kan....yang kuasai stasiun TV..- sengaja melakukan infiltrasi, permisivness, dll, mumpung belum dikategorikan sebagai teroris moral! Uang dan popularitas memang merangsang, atau mereka memang doyang perempuan binal (tapi boleh jadi mereka bakal meradang juga jika ibu, kakak-adik kandungnya dilecehkan. Kalau tidak bereaksi, yaa...makin maklumlah kita siapa mereka itu). Betul betul betul.

    ReplyDelete
  11. inilah Indonesia....

    Filmna setan smua, pornoo smua, luar negri semua, isinya Orang kaya , mobil mahal, hp mahal, exclusive smua. kapaaann PENDIDIKAN yg diangkat. saya salut bgt karya MILES "laskar pelangi" mnurud saya itulah film yang wajib d tonton anak bangsa.real. Film itu khayalan.. oke. tapi jgn ngayal yg ga jelas. kasian yg uda bayar mahal" masuk bioskop klo ga adah sesuatu d pikiran yang bisa d bawa pulang dgn perubahan yang baik.

    mohon doa restu, untuk menyelesaikan kuliah saya d bidang broadcast ini, InsyaAllah... bukan materi yang saya cari tapi Film" berkualitas untuk masadepan anak bangsa dan perfilman Indonesia

    ReplyDelete
    Replies
    1. setuju banget dengan ucapan anda, tapi sekali lagi buktikan yaa, janagn cuma janji-janji bekala. saya rasa anda saat ini sudah lulus kuliah, dan semoga anda bisa membuat suatu karya yang bisa meningkatkan perfilman indonesia. amin

      Delete
  12. Emang gak mutu tuh penulis skenarionya.
    menang nasib doang bisa bikin pilem

    ReplyDelete
  13. Setuju tuh..apalagi sekarang film hollywod udh dicabut gak bisa tayang di Indonesia..kalo,film2 Indonesia cuma kaya gitu terus,kapan mw maju?sekarang film Indonesia jg banyakan bertema horor gak jelas....setan sama cewek2 seksinya yg sering nongol malh cewek2 seksinya,trus efect soundnya cuma ngaget2in aja,pdhl gak serem sama sekali,mlh cm bikin mental anak2 jd penakut..huuufffttt...prihatin..

    ReplyDelete
  14. aq blm tau film ny gmn tp aq yakin pasti sesualitas ny yg ditonjolin...bisa bayangkan aja maxima atao PH apalah lain nya buat film horor aja g bikin takut malah bikin horni....

    ReplyDelete
  15. buktikan saja kita bisa buat yang jauh lebih berguna.. :) biar mereka bertanggung jawab sendiri, dgn apa yg mrk buat ;) smangat!

    ReplyDelete
  16. sekrang.....
    taun 2012... mari kita tingkatkan gairah sex kita... dengan miyabi.... udah melihat kuntilnya dan endehoy nya.....
    kalo kiamat datang.... ya datanglah... yang penting happy..... dosa tanggung sendiri2.....
    INI GAYA HIDUPKU BUKAN GAYA HIDUPMU....!!!!

    ReplyDelete
  17. setuju sekali. saya engga mengerti apakah mereka kehabisan ide atau emang engga bisa nulis script film beneran. menurut saya karena tidak mampu membuat script bagus akhirnya cari sensasi. hanya orang engga peduli sinema yg mau bikin script kaya gitu. kecuali kalau memang mempunyai cerita yg bagus atau tema yg unik, tetapi hasilnya memang jelek abis kok. tintascreenplay.com

    ReplyDelete
  18. Menurut seorang sutrsdara peraih piala citra dalam filmnya "Emak Ingin Naik Haji", membuat film itu tanggung jawabnya dunia akhirat. di dunia, karya filmnya akan mempengaruhi karakter penontonnya. Di akhirat, pertanggung jawabannya kepada Allah. Bila filmnya bermanfaat bagi orang banyak maka dia akan memberi kebaikkan pada dunia, tetapi bila filmnya membuat masyarakat terindikasi dari adegan yg tdk senonoh dlm film itu dan bahkan merugikan bagi pendidikan putra-putri Indonesia, ini yg akan mendapat dosa, di akhiratpu hrs mempertanggungjawabkannya.film horor jg katanya dosa lho. thax ilmunya mas.

    ReplyDelete
  19. tanpa rasa tanggung jawab pada tulisan, sama dengan menghidangkan kotoran diatas piring kristal...

    ReplyDelete