Jangan Asal Bikin Karakter, Riset Dulu!

Judul diatas ada tanda serunya satu, karena kondisinya sudah lumayan gawat. Karakter-karakter yang menari-nari di layar kaca atau pun layar lebar banyak sekali yang hanya sekedar imajinasi atau rekaan penulis skenarionya semata. Tidak ada riset yang mendalam. Riset, teman, riset. Kita butuh riset. Untuk menciptakan tokoh yang tolol pun kita butuh riset. Karakter boleh tolol, tapi filmmakernya jangan dong ah. Masa' gara-gara kejar tayang kita rela menjual diri kita pada ketololan?

Misalnya kita mau bikin karakter orang gila nih ya, apa cukup karakter itu didandanin kumel dan kucel, telanjang dan nari-nari di tengah jalan? Orang gila tuh banyak macemnya. Andrea Hirata sendiri dalam novelnya "Laskar Pelangi" bilang semakin terganggu jiwa seseorang, maka angkanya semakin kecil. Orang gila no. 12 lebih waras dari orang gila no. 11. Berarti ada tingkatannya kan? Gangguan jiwa itu aja ada macam-macam, belom ditambah kalo cuma gangguan kepribadian. Makanya kita perlu riset. Kalo ada penulis skenario yang bikin karakter nggak pake riset, gue bilang itu orang gila no. 1! Haha. Serius deh.

Film fiksi, ketika tidak disetir oleh plot, berarti disetir oleh karakter. Kita perlu menulis dulu SEMUA yang kita bayangkan dari karakter kita agar kita bisa mengenal karakter tersebut lebih mudah. Bikin daftar. Ini boleh dimasukin ke daftar:

  • Seperti apa rupanya?
  • Apa saja yang dipakai?
  • Apa yang disukai?
  • Dari mana asalnya?
  • Pengalaman yang melekat di hatinya?
  • Apa yang didambakan?
  • Apa yang sedang dikejar atau ingin diraih?
  • Pikiran apa yang sedang mengganggunya?

Semakin lengkap informasi maka akan semakin baik. Informasi yang sudah kita punya dari suatu karakter akan menjadi keputusan sang penulis untuk merealisasikannya dalam dunia penceritaan atau tidak. Karakter yang kuat akan membantu atau bahkan membuat plot. Sebaliknya, plot tidak akan membuat karakter. Perkuat lagi karakter yang mau dibuat! Tanyain:

  • Nama?
  • Usia?
  • Jenis kelamin?
  • Hobi?
  • Zodiak?
  • Berapa bersaudara?
  • Suku?
  • Pekerjaan?
  • Makanan favorit?
  • Minuman favorit?
  • Trauma?
  • Perjalanan cinta?
  • Orientasi seks?
  • Pengalaman seks?
  • dst dst.

Riset yang sebenarnya baru berjalan ketika kita sudah mulai menjawab pertanyaan-pertanyaan ini. Contoh pertanyaan tentang nama. Misalnya ada karakter namanya Bambang. Kalo kita nggak punya riset yang cukup atau argumen yang kuat untuk menamakan karakter itu Bambang, boleh dong kita ganti Joko? Atau Slamet? Atau Cupetong? Why oh why do we name the character Bambang?

Maksud dari riset nama ini bukan untuk berfilsafat ha hu ha hu tentang nama. Paling tidak nama itu punya kontribusi di film lah. Jadi bahan joke pun sudah cukup, apalagi kalo ada nilai historisnya. Contoh bagus nih: Chandler Bing, salah satu karakter dalam serial Friends. Nama keluarga Bing berkali-kali disinggung dan dijadikan bahan lelucon di setiap serialnya, sekaligus merefleksikan keluarganya Chandler yang lumayan berantakan (bapaknya yang crossdresser dan ibunya yang kerja malam di bar-bar nakal). Lebih bagus lagi, Friends memiliki satu episode khusus untuk membahas nama keluarga Bing ini dan betapa Chandler sendiri geli kalo dia harus ngasih nama anaknya pake nama belakang Bing.

Riset diatas tidak hanya untuk nama saja; zodiak, pekerjaan, dll juga perlu. Semakin dalam kita melakukan riset maka akan semakin hidup karakternya, sampai-sampai penonton took for granted saja bahwa memang karakter itu ada dan hidup. Ingat Rambo? Rocky Balboa? Don Vito Corleone? Itu semua karakter rekaan, teman, tapi mengapa sepertinya begitu hidup? Ingat Cinta dalam sinetron Cinderella? Hehe. Enough said.

5 comments: